Refleksi Hari Pendidikan Nasional



Ini adalah kali kedua kita memperingati Hari Pendidikan Nasional di tengah pandemi Covid-19. Tentu tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana kita memperingati Hardiknas dengan gegap gempita, seperti upacara di alon-alon dengan tari dan paduan suara masal dari siswa-siswi kita dan pameran pendidikan akbar yang diikuti berbagai perwakilan lembaga pendidikan. Kita tentu rindu suasana tersebut.

Namun, kita harus menyadari bahwa pandemi belum usai. Kita harus tetap waspada. Jangan sampai Lamongan yang sudah mulai hijau zonanya ini menjadi merah lagi.  Dengan hijaunya zona di Lamongan, pembelajaran tatap muka juga sudah bisa mulai normal kembali, namun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kita patut berbangga, konsep Sekolah Tangguh Semeru milik Lamongan dalam menyiapkan Pembelajaran Tatap Muka tahun pelajaran 2021/2022 telah menjadi contoh dan inspirasi bagi sekolah-sekolah  di 14 provinsi di Indonesia. Ternyata, kabupaten-kabupaten lain di Indonesia belum mengadakan persiapan, Lamongan sudah menyiapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sejak awal tahun ajaran kemarin melalui “simulasi PTM di sekolah yang sudah memenuhi persyaratan protokol dan sarana kesehatan berupa Sekolah Tangguh Semeru”.
 
Tema Hardiknas 2021 ini adalah “Serentak Bergerak, Menuju Merdeka Belajar”. Sebuah tema yang meminta seluruh komponen yang berhubungan dengan pendidikan bisa menyukseskan kebijakan Kemendikbud tentang Merdeka Belajar.

Konsep merdeka belajar diambil dari filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita. Beliau mengatakan:

“Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedangkan merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan.”

“Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.”

Dari dua kutipan di atas bisa disimpulkan bahwa merdeka belajar adalah usaha mengembalikan tujuan pendidikan agar siswa bisa menjadi manusia merdeka, yaitu manusia yang beradab yang mempunyai budi pekerti dan bisa menguasai diri sendiri. Pada titik ini, istilah merdeka dan mandiri bertemu.

Secara terminologi, Merdeka Belajar dalam bahasa Inggris dekat dengan istilah “Independent learning”, kemudian untuk siswanya menjadi “independent learner” (pembelajar mandiri, siswa mandiri, atau pelajar merdeka). Merdeka dan mandiri itu ada sedikit perbedaan arti. Tapi sangat dekat artinya.

Istilah Merdeka Belajar itu cukup membingungkan kita. Ada ketidak konsisten dalam menggunakan istilah merdeka di sini. Untuk kampus, ini menjadi kampus merdeka. Untuk pelajar, ini menjadi pelajar merdeka. Untuk proses pembelajaran atau proses mencapai kampus merdeka dan pelajar merdeka, dibutuhkan kebijakan “belajar merdeka”. Jadi sebetulnya yang pas itu belajar merdeka, bukan merdeka belajar.

Menurut W. R. Meyer (2010)–dalam konferensi tahunan British Educational Research Association di  University of Warwick — kunci keberhasilan dari independent learner (pembelajar mandiri) adalah
1. “a strong relationship between teachers and pupils” (hubungan yang kuat antara guru dan murid) dan
2.  “skills that individual learners have to acquire to progress towards independent learning” (ketrampilan yang harus dipenuhi untuk mencapai merdeka belajar), yaitu ketrampilan problemsolving.

Ketrampilan menyelesaikan masalah bisa diperoleh kalau siswa banyak memperoleh pengetahuan. Pengetahuan bisa diperoleh dengan cepat kalau siswa mau belajar mandiri dengan banyak mencari informasi dan pengetahuan di buku, e-book, atau googling di internet.

Semakin banyak membaca, semakin banyak pengetahuan. Semakin banyak pengetahuan, semakin banyak alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.

Inilah mengapa pentingnya Gerakan Lamongan Sehari Satu Buku (Gerlam Sesaku) yang telah  diluncurkan oleh Bupati Yuhronur Effendi di SMPN 1 Lamongan.

Selain itu untuk mempercepat literasi digital siswa dan guru dan juga untuk meningkatkan pelayanan pendidikan, Bupati Lamongan yang mempunyai visi jauh ke depan ini meluncurkan Gerakan Lamongan Sekolah Digital (Lamongan Digital School).

Dua gerakan dibatas adalah gerakan dari Lamongan untuk Indonesia. Lamongan yang bisa menembus batas pandemi (Lamongan goes beyond the pandemic barriers).

Pada tanggal 24 Mei besok, Dinas Pendidikan Lamongan akan memulai pembukaan kerjasama internasional “Hiroshima-Lamongan Student Partnership Program 2021” antara Akifuchu International Course (Senior High School), Hiroshima Jepang dengan 12 SMP Negeri di Kabupaten Lamongan ( SMPN 1, 2, dan 4 Lamongan, SMPN 1 dan  4 Babat, SMPN 1 dan 2 Paciran, SMPN 1 Mantup, SMPN 1 Maduran, SMPN 3 Sugio, SMPN 1 Kedungpring, dan SMPN 1 Kembangbahu).

Program internasional ini sebagai implementasi dan langkah nyata Dinas Pendidikan dalam menyukseskan salah satu karakter Profil Pelajar Pancasila, yaitu berkebinekaan global. Lamongan selangkah lebih maju. Menurut koordinator Akifuchui International Course, Kenichi Kato, “We are front runners“. Sekolah Akifuchu menjadi Pioneer di Hiroshima dan Lamongan menjadi pioner di Indonesia.

Selain itu, terobosan-terobosan seperti ini sangat penting untuk menyiapkan anak didik kita sebagai warga dunia (global citizen). Mereka nantinya bisa menjadi duta-duta dagang yang bisa memasarkan produk UMKM kita ke pasar internasional.

Jaman sekarang ini, kita bisa memasarkan barang tanpa harus pergi ke luar negeri. Cukup di depan laptop atau HP, barang dagangan bisa kita jual. Namun, kalau siswa tidak menguasai bahasa asing, tidak menguasai literasi digital (IT), dan tidak menguasai kompetensi dasar suatu bidang usaha, tentu kelak siswa sulit bersaing di pasar global.

Demikian refleksi di Hari Pendidikan Nasional ini.  Selamat hari Pendidikan Nasional 2021.

Terima kasih kepada semua anak didik, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, kepala sekolah, orang tua dan seluruh stake holder yang tengah berjuang mempertahankan kualitas pendidikan Lamongan di tengah pandemi ini.

Karena pendidikan ini adalah milik kita bersama. Mari berjuang bersama-sama untuk menuju kejayaan Lamongan. (*)

* ) Penulis: Dr. R. Chusnu Yuli Setyo, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unisla


Comments are closed.