Teliti Pendidikan Islam Muslim Tionghoa, Dosen Unisla Raih Gelar Doktor



Hari yang menegangkan sekaligus membanggakan dijalani oleh Winarto Eka Wahyudi, Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) di sidang promosi Doktor PAI Multikultural di Universitas Islam Malang (Unisma).

Eka Sapaan akrab Winarto Eka Wahyudi, menyampaikan disertasi yang berjudul “Social Pedagogy Muslim Etnis Minoritas: Konstruksi Muslim Tionghoa dalam Praksis Pendidikan Islam di Surabaya”, dalam sidang promosi di ruang seminar Hasyim Asy’ari, Gedung Utsman bin Affan, lantai 7 Unisma, Jumat, (14/02/2020).

Riset ini dikatakan Eka, merupakan upayanya dalam rangka menguak karakteristik etnis minoritas mentransmisikan ajaran agama mayoritas (Islam, red) di internal komunitasnya.

“Muslim Tionghoa dalam perspektif akademik sering diatribusikan sebagai entitas yang memiliki problem eksistensial, yang diistilah sebagai minoritas ganda (double minority, red),” ucapnya di hadapan tim penguji.

Menurutnya bahwa komunitas ini minoritas dalam hal ke-Islam-an di etnisnya sendiri, dan tetap menjadi minoritas di tengah etnisitas lain di Indonesia. Realitas sosial inilah yang akhirnya memantiknya untuk meneliti lebih lanjut, tentang improvisasi dan desain pendidikan Islam yang dijalankan oleh Muslim Tionghoa.

Eka dalam risetnya menemukan langgam pendidikan Islam Muslim Tionghoa berhasil memadukan tiga unsur yang saling menyempurnakan (takamuliyah, red), yakni;pengajaran kebudayaan dan kewahyuan.

Ketiganya berjalan secara dialektis-integral, bukan hirarkis-piramidal. Melalui jalan ini, Muslim Tionghoa ingin terhindar dari paham ke-Islam-an yang justru memperparah eksistensi sosialnya sebagai kelompok minoritas.

Pria yang memperoleh beasiswa S3 dari kementerian Agama RI ini menambahkan, bahwa corak pendidikan Islam bagi Muslim Tionghoa tidak bisa dipahami hanya sebatas pengajaran (teaching, red) atau pembelajaran semata.

“Pemahaman itu justru akan mereduksi hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam Muslim Tionghoa adalah upaya transformasi kebudayaan, sehingga transmisi antara keilmuan dan nilai-nilai kebudayaan berjalan secara serentak dalam interaksi akademik,” kata Eka.

Eka menjelaskan, dengan model pedagogi sosial, pemeluk Islam pada komunitas ini tetap bisa mempertahankan background sosio-kulturalnya. Menjadi Muslim yang taat, sambungnya, tidak berposisikan biner (sistem bilangan biner atau susunan bilangan yang mempunyai basis dua), dengan menjadi Tionghoa sejati.

Keduanya bisa berjalan dengan seiring dan harmonis tanpa mereduksi satu sama lain. Hal ini bisa dilakukan karena pendidikan Islam diartikulasikan dengan pandangan hidup serta nilai-nilai kebudayaan yang berlaku pada etnis Tionghoa.

Menurutnya, melalui pemahaman demikian, bisa dipahami bahwa nalar pendidikan Islam sesungguhnya bukan entitas tertutup (isolated entity). Ia akan tetap mengalami intervensi dari konstelasi sosial dan kebudayaan dominan dimana pendidikan Islam itu dijalankan.

“Dari sinilah kosmopolitanisme Islam bertemu dengan ke-Tionghoa-an inklusif melalui interaksi akademik Pendidikan Islam,” tutur Eka. (*)


Comments are closed.