Peran dan Tantangan Profesi Akuntansi di Masa Pandemi



Coronavirus Disease atau Covid-19 merupakan wabah penyakit menular yang muncul secara tiba-tiba dan dengan cepat menggemparkan dunia, memakan banyak korban jiwa, menimbulkan rasa takut dan traumatis, meluluh lantakkan sendi-sendi ekonomi, banyak sektor-sektor bisnis gulung tikar, meningkatnya angka pengangguran dan lain sebagainya.

Akan tetapi ada hikmah yang dapat diambil dari wabah penyakit ini diantaranya: wabah ini merupakan musibah dari sang maha pengatur segalanya yaitu Allah SWT dan sekaligus sebagai takdir yang telah ditetapkan dan mungkin juga sebagai teguran atau peringatan darinya terhadap umat manusia yang harus disikapi dengan akal sehat agar senantiasa selalu bersyukur akan ketentuan terbaik yang telah ditetapkannya, mencari kebaikan-kebaikan dari musibah yang ada ini, serta menangkap pesan yang diberikan dan mengambil pelajaran dari musibah yang ada agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Salah satu dampak dari wabah Covid-19 adalah adanya pembatasan dalam interaksi dan komunikasi langsung antara satu individu dengan individu yang lainnya, baik melalui regulasi dan pemberlakuan aturan: lockdown wilayah, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro, PPKM Level 1,2,3,4 dan lain sebagainya, yang mengakibatkan munculnya fase baru dalam kehidupan manusia atau yang sering disebut dengan istilah era            new normal, dimana di dalam era new normal banyak kebiasaan-kebiasaan lama mengalami perubahan dan bergeser menjadi kebiasaan baru atau new habbit yang dipandang lebih efisien dan efektif, diantaranya:

Sistem bekerja dari rumah (WFH), Online meeting, Virtual office, Online class, Me Time untuk diri sendiri dan keluarga menjadi lebih banyak sehingga dari era baru tersebut dapat menghasilkan efisiensi dan efektifitas waktu, tempat dan biaya bagi organisasi/perusahaan.

Pada sisi yang lainnya, adanya pandemi Covid-19 yang dilanjutkan dengan sejumlah pembatasan, melahirkan konstruksi baru dalam struktur ekonomi nasional dan global, meningkatnya angka kemiskinan, meningkatnya jumlah penganguran yang pada akhirnya dunia juga akan memasuki fase baru dan juga menghadapi fase pemulihan ekonomi inklusif berkelanjutan. Akan banyak perubahan yang terjadi di berbagai bidang, dimulai dari sektor makro, regulasi, dinamika industry, pendidikan, teknologi, geopolitik, hingga perubahan perilaku manusia.

Pendekatan multidisiplin dibutuhkan dalam fase pemulihan ekonomi melalui less contact economy dan berbagai stimulus program percepatan penanganan pandemi Covid-19 untuk mendukung keberhasilan pembangunan dengan pengentasan kemiskinan, mengurangi kesenjangan sosial dan melindungi lingkungan secara global melalui program Sustainable Development Goals (SDGs) dan Millenium Development Goals (MDGs) untuk mewujudkan peluang baru, memungkinkan tumbuhnya pasar lokal, memperkuat ekonomi global secara keseluruhan, dan meningkatnya intensitas perdagangan di seluruh dunia.

Salah satu tantangan bagi para akuntan dalam membantu proses pemulihan ekonomi melalui less contact economy adalah penguasaan teknologi digital, dimana teknologi informasi dibutuhkan sebagai tools (alat) pengambilan keputusan dan menjadikannya sebagai aset berharga untuk memastikan entitas tetap relevan dalam dinamika ekonomi global.

Penguasaan teknologi informasi yang handal, melahirkan: Cara kerja, cara berinteraksi dan berkomunikasi, metode pembelajaran, model bisnis, hingga sudut pandang tentang nilai-nilai telah berubah mengikuti platform digital ekonomi dan menjadikan kebutuhan primer pada setiap aspek.

Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan oleh seorang akuntan dalam era new normal diantaranya: Bagaimana akuntan di dunia harus memiliki perspektif bahwa pada profesi akuntanlah disandarkan terbentuknya trust (kepercayaan) dan akuntabilitas yang tinggi dalam struktur perekonomian digital, elemen transformasi digital akan mengubah tatanan sistem bisnis akuntansi konvensional dengan hadirnya big data, artificial intelligence, cyber security dan automation yang akan berdampak pada profesi akuntansi keuangan dan auditor level junior karena pekerjaan yang dilakukannya bersifat clerical dan repetitif.

Profesi akuntan pada masa yang akan datang, dengan kemampuan penguasaan dan keahlian teknologi informasi dalam platform informasi digital akan lebih banyak berperan pada analisis bisnis, analisis data dan advisory yang menuntut spesialisasi yang tinggi serta pemberian jasa akuntansi yang efektif, efisien dan mobile dalam mendorong bisnis untuk memenuhi persyaratan Sustainable Development Gools (SDGs) melalui peningkatan kemampuan inovasi, menekankan pentingnya perilaku etis, fokus pada praktik terbaik dalam governance dan membantu sektor bisnis dalam pelaporan keuangan mereka.

Perkembangan teknologi menjadikan tantangan lain bagi profesi akuntansi karena tidak banyak sumber daya manusia untuk staf akuntansi yang dibutuhkan dalam dunia bisnis karena telah tergantikan oleh digitalisasi sistem informasi, tenaga manusia mulai digantikan oleh mesin dan besar kemungkinan profesi akuntansi juga dapat tergantikan oleh robot, hal ini berdampak terhadap profesi akuntansi dan akan menjadi tantangan berat yang harus dijawab dan dicarikan solusinya.

Semoga wabah Pandemi Covid-19 yang telah menyerang umat manusia di dunia lebih dari 1,5 tahun ini dapat segera berakhir dan memberikan harapan baru yang lebih. (*)


* ) Penulis: Yanuar Lazuardi, S.E., M.Akt.
Dosen Prodi. Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Lamongan (Unisla)


Comments are closed.