Mahasiswa | Staff | Alumni

Merebaknya Corona, Unisla Buat Hand Sanitizer Herbal



Hand sanitizer menjadi barang langka sejak merebaknya virus corona atau CoVid-19. Merespons situasi tersebut, Universitas Islam Lamongan (Unisla) berinisiatif untuk memproduksi hand sanitizer sendiri.

Hand sanitizer, hasil kolaborasi dan kreasi dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Program Studi (Prodi) Kesehatan Lingkungan tersebut diberi nama Herbatis.

“Hand sanitizer kita ini berasal dari minyak atsiri serai, alkohol dan klorin,” ujar Gading Wilda Aniriani, Kepala Program Studi (Kaprodi) Kesehatan Lingkungan Unisla, Kamis, (19/3/2020).

Lebih lanjut Gading membeberkan, proses pembuatan hand sanitizer bernama Herbatis ini dimulai dengan mengambil minyak atsiri yang terkandung di dalam batang serai dengan cara disuling atau destilasi.

“Jadi satu kilo serai direbus dengan 5 liter aquades atau air murni yang hanya memiliki unsur H2O saja, kemudian air rebusan serai ini tidak berhenti di sini, masih ada proses selanjutnya, yaitu proses destilasi, baru kemudian didapatkan minyak atsiri,” kata Gading, sembari mempraktikkan proses penyulingan.

Setelah mendapatkan minyak atsiri, proses selanjutnya adalah menyiapkan bahan lainnya, yaitu alkohol 70 persen serta klorin. “Tiga bahan ini kita racik dengan persentase alkoholnya ini 80 persen, minyak serai 15 persen dan klorin 2-3 mg/L,” tuturnya.

Menurut Gading, takaran racikan hand sanitizer  Herbatis ini berdasarkan ketentuan dari organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO). “Kenapa klorin-nya 2-3 mg/L, karena kita mengikuti standar dari WHO, yang aman untuk kulit,” ujarnya.

Gading menambahkan, hand sanitizer yang dibuat di laboratorium Kesehatan Lingkungan Unisla ini, memang sedikit berbeda dengan hand sanitizer yang dijual di pasaran, karena mereka menambahkan klorin.

“Memang yang beredar saat ini di masyarakat itu hand sanitizer yang hanya mengandung alkohol 70 persen kemudian ditambahkan aloe vera dan wangi-wangian beguti, sehingga saya rasa masih kurang untuk membunuh virus,” katanya. 

Sebab, dikatakan Gading, virus memiliki struktur yang berbeda dibanding dengan bakteri. Ia membeberkan, bakteri sudah bisa mati dengan alkohol 70 persen saja sudah mati, namun kalau virus tidak.

“Karena virus memiliki kapsul protein yang di dalamnya ada material genetik yaitu DNA dan RNA, dan protein itu bisa hancur karena adanya klorin, jadi kalau hanya alkohol saja tidak mamou membunuh virus, oleh karena itu kita tambahkan klorin,” ucap Wilda. Sementara itu, Rektor Unisla, Bambang Eko Muljono mengatakan hand sanitizer buatan Prodi Kesehatan Lingkungan Unisla ini telah melewati uji laboratorium.

“Berdasarkan uji lab, produk ini mampu bertahan selama 2 tahun,” ujar Bambang.

Hanya saja, Bambang mengatakan, hand sanitizer tersebut untuk sementara hanya diproduksi untuk internal Unisla. “Mengingat hari-hari ini alkohol agak sulit didapat, sehingga kita belum bisa produksi secara massal. Tapi kalau alkohol mudah didapat, insya allah kalau ada instansi yang memerlukan bantuan kita untuk melayani masyarakat, kita bantu,” ucapnya. (*)


Comments are closed.