Doktor Muda Unisla Kaji Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Berkebutuhan Khusus



Hayyan Ahmad Ulul Albab, Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Islam Lamongan (Unisla) berhasil mempertahankan hasil penelitian disertasinya dalam ujian tertutup yang dilaksanakan secara online, Kamis (15/7/2021).

Penelitian yang berjudul “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus pada Siswa Autis di UPT Layanan Pendidikan ABK Kota Malang)”, itu dipertahankannya dihadapan tim penguji, Prof. Dr. Romelah, Prof. Moh. Nurhakim, Ph.D, Dr. Cahyaning Suryaningrum dan Dr. Latipun.

Dalam pemaparannya, Hayyan menjelaskan bahwa dasar pelaksanaan pembelajaran PAI pada siswa berkebutuhan khusus mempunyai dua jawaban terpenuhi dan belum terpenuhi.

“Dasar pelaksanaan pembelajaran PAI yang mempunyai jawaban terpenuhi dikarenakan sarana, prasarana dan hak bagi penyandang disabilitas sudah diberikan secara baik oleh UPT Layanan Pendidikan ABK Kota malang kepada para siswa berkebutuhan khusus,” kata Hayyan.

Sementara, jawaban belum terpenuhi, dikatakan Hayyan, mengandung arti hak pembelajaran agama Islam siswa berkebutuhan khusus masih dalam taraf pembiasaan seperti, pembiasaan salat, pembiasaan berperilaku baik dan pembiasaan aktivitas sosial disekitar rumah siswa berkebutuhan khusus.

“Semua pembiasaan tadi akan berjalan sesuai rencana, jika kognitif siswa semakin hari semakin berkembang, jika tidak maka guru dan orang tua akan selalu berusaha dan terus melakukan pembiasaan agar para siswa berkebutuhan khusus kelak bisa melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang merupakan hasil dari pemikirannya sendiri dengan melalui pembiasaan yang telah diajarkan oleh guru dan orang tua,” tuturnya

Menurut Hayyan, model pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa berkebutuhan khusus mempunyai beberapa ciri. Pertama, sambung Hayyan, pendekatan pembelajaran PAI lebih condong pada pendekatan yang berpusat pada guru dengan persentase 80 persen. “20 persennya guru menggunakan pendekatan yang terpusat pada siswa,” ucapnya.

Kedua, lanjut Hayyan pembelajaran Pendidikan Agama Islam menggunakan strategi pembelajaran langsung. Ketiga sambungnya, metode pembelajaran PAI bisa menggunakan ceramah, menjelaskan, tanya jawab, diskusi, praktek, presentasi, tutorial, sekuel, dan social story. “Kesemua metode tersebut dibantu dengan media visual support, audio support dan bantuan langsung jika siswa mengalami kesulitan,” ujar Hayyan.

Keempat, dikatakannya, dengan menggunakan teknik pembelajaran PAI dengan cara memetakan pembelajaran di papan tulis yang dibantu dengan media visual support. “Kemudian dilanjutkan dengan praktik,” katanya.

Kelima, taktik pembelajaran PAI paling mendasar diajarkan kepada siswa berkebutuhan khusus oleh guru yang beragama Islam dan nilai tambah akan disematkan kepada guru yang mempunyai dasar pembelajaran PAI dengan didampingi skill penanganan anak berkebutuhan khusus.

Lebih lanjut Hayyan membeberkan, aspek-aspek hasil belajar Pendidikan Agama Islam Siswa berkebutuhan khusus mempunyai 3 ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

“Tahapan kognitif mempunyai urutan mengingat, memahami, menerapkan dan tertinggi mengevaluasi,” ujar Hayyan.

Tahapan afektif mempunyai urutan penerimaan, penanggapan, penghargaan (target tiap siswa). “Dan pengecualian untuk siswa berkebutuhan khusus pintar dalam 1 hal akan masuk urutan penjatidirian,” tuturnya.

Sementara untuk tahapan psikomotorik, tambah Hayyan, berurutan dari persepsi, kesiapan, respon kompleks sampai penyesuaian. (*)

Publisher : Rochmat Shobirin | https://www.timesindonesia.co.id


Comments are closed.

Clicky