Menggalakkan Close Recirculation System dalam Budidaya Lele



Desa Sambangan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan secara klimatologis beriklim kering. Hal ini menimbulkan masalah bagi penyediaan dan pengelolaan air untuk usaha budidaya lele.

Secara umum kondisi usaha budidaya ikan lele di desa Sambangan masih jauh dari layak. Usaha ini masih bersifat sambilan dan dikelola secara tradisional.

Berbagai permasalahan muncul dalam budidaya ini, antara lain: minimnya kualitas SDM, kondisi kolam budidaya yang mudah rusak dan belum layak standar, pemilihan bibit lele yang sering kali jelek, dan kesehatan ikan lele yang sering terganggu seperti banyaknya ekto-endoparasit, bakteri, serta virus yang menyerang akibat buruknya pengelolaan kualitas air.

Permasalahan tersebut menjadikan pembudidaya ikan cenderung merugi karena nilai kelulushidupan (survival rate) ikan yang rendah sehingga mengakibatkan nilai produksi-nya juga rendah.

Permasalahan – permasalahan di atas sesegera mungkin membutuhkan solusi agar usaha budidaya lele di desa setempat bisa dijadikan mata pencaharian yang bisa diandalkan untuk menutupi kebutuhan ekonomi, bukan hanya pekerjaan sampingan alakadarnya. Sehingga kesulitan ekonomi masyarakat bisa teratasi, terutama di masa pandemi covid-19 ini.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan diatas adalah melalui pengolahan hasil buangan limbah, pemanfaatan tumbuhan kangkung sebagai bahan fitoremediasi dan pengelolaan budidaya lele dengan sistem sirkulasi tertutup (closed recirculation system).

Sistem ini memanfaatkan simbiosis mutualisme antara tanaman dan ikan berdasarkan pada pemanfaatan buangan hasil metabolisme ikan oleh tanaman, penerapan sistem polikultur, efisiensi pemanfaatan air, penyediaan produk pangan organik dan peningkatan pendapatan. Prinsip dari sistem resirkulasi adalah penggunaan kembali air hasil budidaya.

Keuntungan sistem resirkulasi, yaitu dapat meminimalisir penggunaan air dan mereduksi bahan organik seperti amonia, nitrit, dan buffer pH. Selain itu, sistem ini menghasilkan multi produk (ikan dan sayuran) yang tidak terkontaminasi pestisida maupun zat kemotherapeutik lainnya, sehingga lebih segar, sehat, dan higienis.

Berdasarkan hasil uji coba teknologi fitoremediasi menggunakan kangkung dengan sistem CRS (closed recirculation system) yang dibandingkan dengan tanpa menggunakan metode tersebut menunjukkan bahwa teknologi fitoremediasi menggunakan kangkung dengan sistem CRS (closed recirculation system) memberikan hasil yang positif dan lebih baik dalam meningkatkan kualitas budidaya ikan lele.

Ikan lele yang dipelihara menggunakan teknologi fitoremediasi memperlihatkan kualitas air yang relatif baik dibandingkan tanpa menggunakan teknologi fitoremediasi, pertambahan bobot juga terlihat menunjukkan pola peningkatan yang baik dengan tingkat kelulushidupan yang lebih tinggi dengan rata-rata 95 persen. (*)

* ) Penulis: Moch. Saad, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Islam Lamongan (Unisla)


Comments are closed.