Informasi PMB 2026 : Pendaftaran Gelombang 2 dibuka! Hubungi Kami

  • By Humas Unisla
  • (0) comments
  • 5 November 2026

Didapuk sebagai Ketua Komisi, Wakil Rektor Unisla Soroti Rekonstruksi Kurikulum dan Pembelajaran dalam Simposium Nasional PAI

Badung, Bali – Wakil Rektor Universitas Islam Lamongan (UNISLA), Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I., menjadi salah satu narasumber dalam Simposium Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Perguruan Tinggi Umum (PTU). Simposium ini diselenggarakan Direktorat Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, pada 3–6 November 2026 di Swiss-Belhotel Rainforest, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya rekonstruksi kurikulum PAI sekaligus penguatan budaya religius kampus (religious culture) agar PAI relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia profesi masa depan.

Simposium bertema “Rancang Bangun PAI PTU Masa Depan: STEAM, Disrupsi, dan Generasi Baru” ini diikuti sekitar 170 peserta. Mereka terdiri atas dosen PAI dari perguruan tinggi umum dan politeknik, Asosiasi Dosen PAI se-Indonesia (ADPISI), pengurus Griya Moderasi Beragama dan Bela Negara (GMBBN), serta mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN). Panitia juga menjaring empat puluh paper dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui seleksi, yang terbagi dalam lima subtema: kurikulum dan pembelajaran, SDM dosen PAI, campus religious culture, kebijakan dan regulasi, serta tata kelola dan akses.

Melalui paper berjudul “PAI Pasca-Doktrin: Rekonstruksi Epistemologis Kurikulum PAI di Perguruan Tinggi Umum untuk Kebutuhan Masa Depan”, Dr. Eka, sapaan akrabnya, menyoroti posisi PAI yang kerap dipandang mahasiswa sebagai mata kuliah wajib yang mengulang materi sekolah. Menurutnya, PAI terlalu lama diperlakukan sebagai saluran transmisi doktrin, padahal seharusnya menjadi instrumen pembentukan nalar beragama, etika profesi dan etos kerja.

“Yang ingin kita lahirkan bukan sekadar sarjana yang tahu agama, tetapi profesional yang bekerja dengan nilai-nilai keagamaan yang baik,” tegasnya.

Selain kurikulum, ia menilai pembelajaran di kelas perlu disambungkan dengan kebutuhan profesional di masa depan mahasiswa di masing-masing prodi serta diperkuat dengan ekosistem religius kampus. Hal ini menurutnya sudah diimplementasikan dengan baik di beberapa PTU besar, seperti UB, ITS, UPI, ITB dan Unpad.

“Mereka bukan kampus Islam bisa, Unisla harus lebih baik karena punya resources yang melimpah: Pondok Pesantren Mahasiswa (Ponpesma), jaringan pesantren dan kiai yang kuat serta dosen-dosen yang banyak aktif di organisasi keislaman” terangnya

Menurutnya, ini adalah momentuk karena beririsan dengan kebijakan nasional. Melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 158 Tahun 2026 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum PAI pada PTU, Kementerian Agama menyosialisasikan peningkatan alokasi mata kuliah PAI dari dua menjadi tiga SKS. Dr. Eka memandang tambahan satu SKS itu sebagai ruang strategis untuk mengintegrasikan nilai Islam dengan sains, teknologi, dan kebutuhan profesi mahasiswa, melalui mentoring, religious camp, proyek moderasi beragama dan ekoteologi dan lain sebagainya.

Keikutsertaan UNISLA dalam forum nasional ini, kata Dr. Eka, menjadi bagian dari komitmen kampus untuk berkontribusi pada penguatan pendidikan agama di tingkat nasional. “Rancang bangun masa depan PAI tidak akan lahir dari satu kampus. Ia lahir dari kesediaan kita semua untuk duduk bersama, saling mendengar, dan bekerja melampaui batas institusi masing-masing,” pungkasnya.

Humas Unisla

previous post next post

© Universitas Islam Lamongan