Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini dalam Fenomena Dual Career Family



Tawaduddin Nawafilaty, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Universitas Islam Lamongan (Unisla)

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 poin 12 dijelaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Artinya, Anak di usia 0-6 tahun masuk dalam kategori anak usia dini. Pada usia tersebut, seorang anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat atau dapat dikatakan masa keemasan (golden age), sehingga anak memerlukan pola pengasuhan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak.

Kebutuhan dasar yang dimaksud mulai dari kebutuhan yang berkaitan dengan pemberian stimulasi (asah), kebutuhan yang berkaitan dengan afeksi (asih), serta kebutuhan yang berkaitan dengan tumbuh kembang fisik biologis (asuh). Yang perlu diperhatikan, bukan hanya jenis pola pengasuhan yang dipilih oleh orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak. Melainkan juga kemampuan orang tua maupun pengganti orang tua (pengasuh) untuk melakukan semua tugas pengasuhan anak secara penuh, sehingga pemenuhan tumbuh kembang anak dapat tercapai secara optimal.

Seiring dengan maraknya fenomena perkawinan dual-career family dimana pasangan suami dan istri sama-sama bekerja di luar rumah, sehingga harus menggandeng pihak lain untuk bekerjasama dalam mengasuh anak (pengasuh pengganti). Boleh jadi pihak lain tersebut adalah kakek dan nenek, paman dan bibi, tetangga, asisten rumah tangga dan tempat penitipan anak.

Tantangan terbesarnya adalah, apakah pengganti orang tua mampu memberikan pengasuhan yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh orang tua kandung? Sudah tepatkah pilihan tersebut apabila dipandang dari sudut pandang psikologi pendidikan dan perkembangan anak?

Hasil penelitian yang dilakukan penulis untuk menjawab pertanyaan diatas, bahwa beberapa orang tua memilih untuk mengambil keputusan menjalani dual career family, disebabkan tuntutan ekonomi. Sedangkan beberapa lainnya karena alasan mengedepankan pertimbangan eksistensi diri salah seorang pasangan suami istri atau keduanya sekaligus.

Namun, kurangnya pengetahuan dan kesadaran dari para orang tua tentang pentingnya masa keemasan tumbuh-kembang anak rupanya belum bergeser kepada sebuah kesadaran dan tindakan nyata untuk memastikan apakah pengasuh pengganti telah memenuhi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak atau belum. Kurangnya kesadaran ini tampak dari minimnya upaya menyampaikan kepada pengasuh pengganti tentang apa yang seharusnya dilakukan dan yang ingin dicapai dalam pengasuhan.

Terlebih,, sebagian besar para orang tua tidak menyampaikan pesan khusus terkait pola dan model pengasuhan yang ideal kepada pengasuh pengganti. Bahkan beberapa orang tua secara terbuka dan sadar cenderung menyerahkan sepenuhnya tugas-tugas pemenuhan kebutuhan dasar anak kepada pengasuh pengganti. Hal ini kemudian di perparah oleh anggapan para orang tua bahwa pengasuh pengganti sudah lebih mengerti apa yang harus dilakukan dalam pengasuhan anak. Mereka beranggapan memberikan pesan ke pengasuh tidak perlu untuk dilakukan dan cenderung untuk dihindari karena khawatir akan merusak hubungan kepercayaan antara orang tua dan pengasuh pengganti.


Comments are closed.