Jejak Peradaban Islam Nusantara; Buku Joint Research Dosen FAI Unisla dan UIN Sunan Ampel



Buku “Jejak Peradaban Islam Nusantara; Pergulatan antara Resistensi dan Adaptasi di Era Kolonial”, karya Dr Winarto Eka Wahyudi, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla), bersama Dr Achmad Muhibin Zuhri, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, (Foto: Ja’far Shodiq)

 “Jejak Peradaban Islam Nusantara; Pergulatan antara Resistensi dan Adaptasi di Era Kolonial” menjadi perwujudan karya Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla), Dr Winarto Eka Wahyudi, dengan Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr Achmad Muhibin Zuhri.

Buku yang dibiayai oleh Kementerian Agama RI merupakan hasil kolaborasi riset ini merupakan perwujudkan kerjasama lintas sektor antara Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) dengan Perguruan Tingi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang penelitian.

“Kami sama-sama mengkaji eksistensi Islam Nusantara dan kontribusinya dalam melawan imperialisme-kolonialisme melalui tradisi, literasi dan perang fisik,” ujar Eka di kantor Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (lakpesdam) NU Lamongan, Rabu, (1/7/2020).

Eka dan Zuhri, dalam buku ini mengulas, Islam di Nusantara menjadi gerakan perdamaian yang mampu menjadi contoh sekaligus inisiator wajah Islam yang ramah dan rahman, yang mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman dengan spirit kebangsaan.

Citra Islam yang demikian, perlu dikampanyekan mengingat di Timur Tengah tak banyak yang bisa dilihat, kecuali kebrutalan dan kebengisan yang meruntuhkan nilai-nilai kebangsaan, lebih-lebih kemanusiaan. Ironisnya, konflik yang setiap hari seakan menjadi menu keseharian, dilakukan sesama saudaranya sendiri, sebangsa dan seiman (baca: Islam).

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari peradaban Timur Tengah jika demikian realitasnya? Tidak ada kecuali kebodohan yang dibumbui atribut-atribut agama. Maka, Islam Nusantara harus terus istiqomah bersuara di kancah internasional. Mengkampanyekan nilai-nilai persaudaraan dan toleransi yang sejak lama dipraktikkan di bumi Pertiwi.

“Selain itu, aspek terpenting dalam kajian Islam Nusantara adalah usaha untuk melakukan ekskavasi arkeologi produk keilmuan, baik yang direalisasikan dalam bentuk literasi (kitab, syair, tembang) maupun dalam bentuk tradisi yang berdenyut di masyarakat. Karena dengan menengok kembali khazanah Islam Nusantara, kita akan memperoleh cerminan tentang perananan Islam dalam membangun peradaban di Indonesia,” ujarnya.

Dalam penelitian ini, tidak hanya diuraikan tradisi Islam apa saja yang dilakukan oleh masyarakat, namun bagaimana tradisi itu pertama kali dilakukan serta hubungannya dengan kolonialisme.

Memang, dalam kajian ini yang menjadi stressing adalah relasi tradisi Islam Nusantara, dengan resistensinya terhadap imperialisme.Kajian ini berusaha menguak tentang bagaimana sebuah tradisi dikonstruksi oleh para ulama dan santri, untuk melawan penjajahan dengan senjata paling mematikan, yakni strategi kultural.

Menurut Eka, strategi ini menunjukkan dengan baik, bahwa ulama tak hanya memerintahkan rakyat untuk berperang dan bertempur menghadapi penjajah dengan mengatasnamakan jihad. Namun dengan ilmu hikmahnya, para sarjanawan Islam Nusantara, mampu melindungi pemikiran kolektif masyarakat, dengan tradisi-tradisi yang lahir dari rahim keilmuan Islam.

Dalam buku ini, akan didapatkan sebuah gambaran yang menghenyak, bahwa aksara pegon, tari seudati, syair dan tembang-tembang, digunakan oleh para ulama sebagai mediasi membangun spirit nasionalisme dan patriotisme untuk tetap setia tidak hanya pada agamanya, tapi pada negaranya.Taktik kultural inilah yang secara nyata memperlihatkan resistensi komunitas Islam Nusantara pada penindasan kolonialisme.

“Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa tradisi Islam di Nusantara tak hanya menyuguhkan ekspresi dan artikulasi ke-Islaman muslim Indonesia dalam menangkal penjajahan, namun juga diketengahkan bukti bahwa dari masa ke masa ulama-ulama Nusantara telah lama menjalin jejaring sanad keilmuan dengan para maha guru Islam yang berada di Mekkah dan Timur Tengah,” ucap Eka.

“Yang, sekembalinya dari perantauan ilmiah itulah, para ulama Indonesia mulai mengembangkan keilmuan serta –yang paling penting- menjadi inisiator ulung gerakan semangat jihad melawan kolonialisme,” kata Eka.

Dikatakan Eka, John R Bowen misalnya, dalam artikelnya yang bertajuk Intellectual Pilgrimages and Local Norms in Fashioning Indonesian Islam, menulis bahwa ulama Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Makkah dan Madinah, kembali ke Indonesia membawa semangat keagamaan sekaligus kebangsaan untuk melawan tekanan kolonialisme melalui pendirian pesantren, penulisan produk keilmuan, sampai pada era paling belakang dengan membentuk organisasi Islam.

Buku hasil dari joint research ini, merupakan upaya sinergis untuk melakukan salah satu amanah tri dharma perguruan tinggi dalam bidang penelitian. Adanya riset ini, berhasil diketemukan bahwa Islam dengan karakter khas Nusantara melalui berbagai dialektika sekaligus dinamika historis yang mengikutinya, sangat tepat bagi karakter sosio-kultural ke-Indonesiaan.

Sebuah “bentuk ke-Islaman” yang bisa merangkul perbedaan, dan membaur bersama kebudayaan lokal. Tak hanya bermodal semangat beragama, namun juga tetap apresiatif terhadap budaya serta komitmennya yang kuat terhadap bangsa dan negara.

Pewarta: Ja’far Shodiq


Comments are closed.