Informasi PMB 2026 : Pendaftaran Jalur PMDK dibuka! Hubungi Petugas PMB

  • By unisla
  • (0) comments
  • 9 May 2026

Fenomena Rojali dan Rohana Dinilai Rugikan Pedagang: Omzet Menyusut, UMKM Ikut Terpukul

Fenomena sosial ekonomi baru belakangan ini ramai menjadi perbincangan, terutama di kalangan pelaku usaha ritel dan pengamat ekonomi. Dua istilah yang kini populer, yakni Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya), dinilai membawa dampak serius terhadap penurunan performa sektor perdagangan.

Istilah tersebut muncul dari kecenderungan masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan secara berkelompok, aktif berinteraksi dengan produk dan layanan, namun tanpa melakukan pembelian. Kelompok Rojali umumnya datang hanya untuk berjalan-jalan, melihat-lihat, bahkan mencoba fasilitas yang disediakan tenant. Sementara Rohana kerap terlihat antusias bertanya mengenai spesifikasi barang, harga, dan promo, namun tidak menunjukkan minat serius untuk bertransaksi.

Dampak nyata dari perilaku ini mulai dirasakan para pelaku usaha. Berdasarkan data internal sejumlah pusat perbelanjaan modern, penurunan omzet hingga 10 persen tercatat dalam kurun tiga bulan terakhir. Jumlah pengunjung memang meningkat, namun tidak diimbangi dengan rasio pembelian yang memadai.

Menurut Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan (Unisla), tren ini mencerminkan tekanan ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat, terutama dari golongan menengah ke bawah.

“Banyak masyarakat tetap ingin merasakan suasana berbelanja atau rekreasi, tapi secara finansial mereka sedang melakukan penyesuaian. Prioritasnya bergeser pada pengelolaan keuangan rumah tangga yang lebih ketat,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, tingginya kunjungan ke mal atau pusat ritel biasanya menjadi sinyal positif bagi potensi transaksi. Namun kehadiran Rojali dan Rohana membuat logika itu tidak lagi relevan. Model ekonomi berbasis trafik fisik kini mulai dipertanyakan efektivitasnya, terutama bagi tenant dan pelaku usaha ritel yang sangat bergantung pada penjualan langsung.

Lebih mengkhawatirkan, fenomena ini mulai menjalar ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di pasar tradisional, warung pinggir jalan, bahkan di platform digital seperti marketplace atau media sosial, pola yang sama mulai tampak.

Indira Shofia Maulida, SE., MM., dosen sekaligus pengamat UMKM dari Unisla, menjelaskan bahwa UMKM berada di posisi yang lebih rentan ketimbang usaha besar. Minimnya cadangan modal, keterbatasan distribusi, serta ketergantungan pada penjualan harian membuat mereka mudah terdampak oleh perubahan perilaku konsumen.

“Bagi UMKM, satu keputusan batal beli saja bisa berarti kerugian. Mereka tidak punya ruang manuver sebesar korporasi besar,” jelasnya.

Kisah Ibu Siti, pelaku UMKM penjual camilan di Lamongan, menjadi potret nyata dampak fenomena ini. Ia mengaku penjualannya turun signifikan dalam dua bulan terakhir, meski lapaknya masih ramai dikunjungi.

“Banyak yang datang tanya-tanya, sudah saya kasih harga diskon, katanya mau balik lagi, tapi akhirnya enggak beli juga. Saya sudah keluar tenaga, waktu, bahkan produksi barang. Tapi stok malah menumpuk,” keluhnya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya stagnasi penjualan dan kerugian berkepanjangan. Apalagi produk makanan ringan bersifat cepat rusak, sehingga risiko kerugian makin tinggi.

Fenomena Rojali dan Rohana ini, jika ditarik lebih jauh, menjadi cermin dari melemahnya daya beli masyarakat akibat naiknya harga kebutuhan pokok dan stagnasi penghasilan. Ketika pendapatan bisa dibelanjakan (disposable income) masyarakat terus tertekan, maka sektor perdagangan, terutama UMKM, akan menjadi salah satu pihak yang paling awal merasakan dampaknya.

unisla

previous post next post

© Universitas Islam Lamongan