Dalam sebuah perbincangan di warung kopi, ada seorang kawan berkomentar dalam bentuk pertanyaan: apa susahnya menjadi pemilih dalam pemilihan umum, termasuk Pilkada DKI Jakarta? Bukankah itu pekerjaan yang selesai dilakukan hanya beberapa detik saja?
Kita tentu mempunyai berbagai penilaian atas pertanyaan tersebut. Sebagian dari kita mungkin mengatakan, ini pertanyaan bodoh. Namun, kalau ditelusuri agak serius, pertanyaan ini sebenarnya mengisyaratkan percampuran berbagai kondisi psikologis masyarakat, antara kepedulian untuk ikut pilkada, apatisme, dan ketiadaan harapan untuk masa depan pascapilkada

In Tak Berkategori. Bookmark the permalink.